Bali day's 3 jeruk-Kintamani..


Gunung Batur dan danaunya
Hari ketiga kami di Bali adalah mengunjungi makam  trunyan di Kintamani. Kitamani adalah salah satu tempat favorit di Bali yang menyajikan suasana pegunungan dengan ikon utamanya Gunung Batur dan danau Batur. Letaknya di Kabupaten Bangli. Kalau dilihat di peta masukk kawasan Bali hampir utara.
 Empat tahun ahun yang lalu, saya sempat mengunjungi tempat ini, namun tidak sampai menyeberang danau untuk melihat makan yang unik itu. Kali ini, gara-gara penasarannya bude saya dengan makan yang terkenal itu, beruntung banget saya bisa menyeberang. 
Nah, perjalanan kali ini cukup begitu lama, apa lagi posisi hotel kami yang dekat dengan pantai Kuta ke Kintamani hingga memakan waktu 3 jam. Ketika jalannya mulai naik (pegunungan) pemandangan berubah dengan perkebunan jeruk. Buah jeruk yang berwarna kuning-kuning bergelantungan di pohon. rasanya pengeenn banget bisa metik. Apalagi itu luar biasa banyaknya.

Mas Asa,, jangan di petik lho ya..


Nah melihat Jeruk yang begitu luar biasanya, rasanya pengen makan jeruk banget. Apalagi kalau tinggal petik. Sewaktu mencari-cari penjual jeruk, tiba-tiba di kiri jalan ada sekelompok orang dengan keranjang-keranjang kayu penuh dengan jeruk. Kami pun  tanyak-tanyak maksud hati mau beli, eh ternyata jeruk itu mau dikirim ke luar Bali. Dan kalaupun beli harus satu keranjang dengan berat 100kg, Buset deh pak.. emang kita mau dagang jeruk..?? 
mbak Sita, beli jeruknya yang banyak ya.


Setelah muter-muter cari tukang jeruk yang nggak grosiran dan ketemu, bude dan mbak Sita langsung memborong  jeruk yang cukuplah buat mules-mules, kita melanjutkan perjalanan lagi  ke tujuan utama. Kintamani.
Nah. sampainya disana.. Maksud hati mencari jalan Alternatif, Lhadalah yang ada kita tambah kejebak mancet karena ada pawai menyambut hari keagamaan..
Karnaval yang bikin mancet..
Salah satu pura yang rame dikunjungi turis. terutama buat berfoto


baru nyampe, foto-foto dulu yuk..
dermaga penyebarangan.
Dan Alhamdulillah setelah ndlesep-ndlesep kita lolos dari karnaval mancet dan langsung cabut ke arah danau. Sesampainya disana, buset dah belasan calo perahu langsung menyerbu kami. Obral harga lah, yang  inilah, yang itu lah., yang seluruhnya kami tolak.
(Saya baru tahu alasan kenapa Danau Batur sangat jarang diminati oleh turis mancanegara, ya mungkin calonya ganas-ganas)
Yang akhirnya Mas Asa menyewa perahu  patungan dengan keluarga orang yang harganya relative murah dibandingin harga calo-calo itu. 
Saya sedikit bingung ketika akan menyeberang. Danau seperti ini kenapa ombaknya gedhe banget mirip seperti ombak laut. Padahal ya anginnya  juga nggak gedhe-gedhe amat.  Dan warna airnya  hijau kecoklatan. Hiii. rasanya seperti arwah-arwah orang mati menyelubngi danau..

tegang banget di atas kapal.. tapi aku nggak kok..
sudut lain ketika ditengah danau..

 Sampainya di makam  ternyata  suasananya sangat berbeda dengan apa kata oang-orang. Jenasahnya  nggak di geletakkan begitu saja. jenasah ditutup dengan kan-kain dan ditambah bambu-bambu dibagian luarnya.. Nah, kata tukang perahu tadi ada jenasah yang masih lima hari diletakkan. Bayangan saya baunya akan menyebar (ya taulah baunya gimana) tapi mungkin yang katanya ada pohon trunyan  jadi tidak ada bau nggak enak sama sekali.. Disana kita tidak boleh merusak atau mengambil barang apapun, kalau tidak ingin  Hal buruk terjadi. Menurut perasaan saya sih, memang ada sedikit aroma mistis disana. Mungkin juga banyak arwah-arwah disekitar tempat itu.
Sekitar setengah jam mengunjungi makam dengan sedikit kecewa, kami kembali lagi ke dermaga. Yang bikin aku sedikit "Heh??" adalah bela-belain uang 700ribu buat nyeberang demi lihat kuburan.. Jjjeh...
Kuburan mah banyak dijawa.
salah satu prahu dengan background Danau Batur

Dermaga prahu


0 komentar:

Posting Komentar