Bali days 2 sukowati-ubud-Kuta

Hari kedua saya di Bali adalah ke pasar Sukowati, biasalah nemenin bude dan sepupu saya , mbak Sita yang hobinya belanja. Terutama untuk memburu lukisan yang udah di planning jauh-jauh hari sebelum ke sini. Masuk keluar pasar, muter-muter ngalor ngidul namun lukisan yang sreg di hati belum ketemu juga. Dapatnya hanyalah lukisan kembang kamboja khas Bali titipan bulek saya.

lukisan di pasar sukowati

 Belum puas mencari lukisan, kami pindah pasar lagi menuju pasar Badung. Nah. kali ini, pasar Badung menyediakan koleksi lukisan yang lebih beragam dan variatif, selain itu harganya juga lebih murah dari pasar sukowati (kalau pinter nawar). selain dapat lukisan, mbak Sita memborong jepit rambut dengan hiasan kamboja yang gedhe banget. tentunya donk buat oleh-oleh yang sangat khas dari bali. 
Usai berbelanja ria, kami melanjutkan perjalanan ke Ubud, desa wisata bali yang tambah terkenal juga karena filmnya Julia Robert "eat, pray and love." 
Dan memang benar, wilayah ini begitu unik, modenr tapi klasik. nuansa modern berjajar di sepanjang perjalanann namun tak meninggalkan ciri khas bali. karena itulah, menurutku lebih banyak pengunjung manca dari pada domestik. sebenarnya, ingin hati saya mengunjungi pertanian ubud yang terkenal cantik itu. namun apa daya, manut sopire. Pakdeku menyarankan mengunjungi tempat lainnya. Duh.. nasib nunut. 
Dan.. tempat itu adalah tempat dimana kita bisa lihat monyet berkeliaran bebas diantara para pengunjung. lebih terkejutnya lagi adalah tiket masukknya 30ribu per orang. buset deh padahal kyak gini aja nbanyak di kampungku, bahkan gratris..tis..tis.. saya tambah bingung lagi, 90% pengunjungnya turis.. 

monyetnya lagi nangkring di pagar
 Bosen lihat monyet, kami cabut lagi mencari tempat lain di Bali. Namun ketika mobil keluar beberapa meter dari parkiran. Lha dalah. kejebak mancet yang panjang banget.  Bete di dalam mobil, aku memutuskan turun dan berjalan kaki. dan ternyata pilihan ku ini tepat banget. banyak hal yang lebih menarik difoto dari pada monyet tadi..
mbak sita ngincar satu
tempat menonton tari bali. tapi harganya.. busyet deh.

yang khas dari ubud tak ketinggalan
dari Ubud, kami melanjutkan langkah kembali mengejar sunset di pantai Kuta. Mungkin terlalu sering orang terlalu sering mendengar pantai ini, tapi kali ini saya berharap bisa mendapatkan moment sunset yang pas. apalagi empat tahun  yang lalu saya kesini, suasananya mendung.. Dan beruntung banget kali ini cuaca bersahabat dengan saya.
waiting sunset

ditemani payung dan kursi

pulang dari selancar

jejeran payung-payung di pantai

waiting

hotel favorit saya

mbaknya lagi narsis nih...

0 komentar:

Posting Komentar