Gunung semeru, merupakan gunung
tertinggi di jawa timur yang berada di perbatasan beberapa kabupaten. Diantaranya
Seperti Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang dan kabupaten Probolinggo. Daerah
pegunungan biasanya masih memiliki banyak sumber air sehingga akan
terdapatbanyak terdapat air terjun di
wilayahkaki gunung. Takterkecuali seperti daerah pronojiwo kabupaten
Lumajang Jawa Timur yang masih berada dibawah kaki gunung Semeru memiliki air
terjun yang cukup indah dan seru untuk dikunjungi yakniAir terjun Kapas Biru dan sepaket air terjun
Cuban sewu.
Alhamdulillah puji syukur Allah
saya masih diberi kesempatan main ke tempat baru Bersama teman-teman baru pula yang
dikenalkan olehmbak Ay. Minggu lalu
kami main ke sepaket air terjun di kabupaten Lumajang. Dan.., air terjun
pertama yang kami kunjungi Adalah air
terjun Kapas Biru.
Berangkat dari Surabaya pukul 12
malam dan tiba di Lumajang sekitar subuh dengan perjalanan lewat dampit
kabupaten Malang. Rute perjalanannya naik turun tikung kanan tikung kiri sampai
melewati petunjuk arah air terjun kapas biru kemudian masuk gang sempit yang
lebarnya hanya satu mobil. Dan, sampailah kita di tempat parkir.
foto bareng sebelum berangkat melangkah
Setelah parkir dan membayar tiket
satu orang Rp 5000, barulah perjalanan sesungguhnya dimulai. Bersama enam belas
teman baru saya, kami mulai melangkahkan kaki menelusuri rute menuju air
terjun. Diawal perjalanan kami melewati kebun salak penduduk yang cukup lumayan
banyak buahnya. Duh rasanya tangan saya geli untuk memetiknya. Apalagi melihat
buahnya yang udah besar-besar. Sebagian besar penduduk setempat menanam salak
karena panennya bisa dikatakan rutin setiap bulan. Apalagi yang ditanam adalah
salak pondoh yang manis dan tentunya enak dimakan.
Perjalanan berikutnya kami
barulah menapaki jalanan setapak yang menurun. Bonusnya lagi kami harus
menuruni tangga yang kemiringanya Sembilan puluh derajad yang benar-benar tegak
lurus setinggi empat meter. Barulah kemudian jalurnya tidak terlalu sulit untuk
ditapaki dan tentunya pemandangan yang spektakuler. Intinya.., perjalanan kami
adalah menuruni ngarai sungai karena posisi air terjun berada dibawah.
turun tangga dulu yuks
kurang lebih medannya seperti ini
nyebrang dulu di jembatan bambu
Setelah jalannaik turun ditepian sungai sekitar satu jam,
barulah.., kita sampai di air terjun
Kapas biru.
How about air terjun??
Spektakuler Abis. sejujurnya diperjalanan air terjun saya sebelumnya belum
pernah melihat air terjun yang segedhe itu dan tinggi. Ketinggiannya lebih dari
dua puluh meter yang jatuh bebas dari tebing dan derasnya minta ampun. Walaupun
musim kemarau masih melanda tapi aliran airnya masih sangat deras. Dibawahnya pun
aliran sungainya sangat cantik melewati batu-batu dan tentunya sangat jernih.
Barulah itu air akan bermuara ke sungai dibawah.
Setiap hari minggu atau hari libur,
air terjun ini ramai dikunjungi. Walaupun jalannya lumayan melelahkan (walaupun
tak se-ekstrim air terjun di Tulungagung) tapi air terjun ini sangat saya
rekomendasikan untuk di kunjungi. Dijamin seru abis.
To Be Continue......
nyampelah kita di Air terjun
narsis-narsis dulu nih
pemandangan di sekitar Air terjun
mas lutfi lagi tidur, lebih enak dari pada dikasur
tak lupa dunk artisnya narsis dulu
salah satu tlogo warna yang airnya berwarna biru
Menulis, salah
satu hal dalam hidup saya yatlogo warna yang airng juga sangat dipengaruhi oleh mood. Tanpa mood yang baik, tulisan pun
juga berpengaruh dan Alhasil ndak enak dibaca. Tapi hal tersebutlah yang
menjadi tantangan saya sebagai perintis travel blogger Indonesia. Hahaha.. Amin
Terakhir, Cerita
sayatentang air terjun yang letaknya di
Sendang, Kabupaten Tulungagung. Dan setelah itu saya belumpergi kemana-mana. Disamping kuliah yang
mulai dijalani, kantongpun juga sangat tipis untuk pergi main-main.
Tapi kali ini
saya mau mencoba mengupas dua tempat di kabupaten Tulungagung yang mirip dengan
dua tempat yang terkenal di Indonesia. Tapi yang ini mungkin bisa dikatakan
miniaturnya.
Pernah dengar
danau kalimutu yang memiliki tiga warna di NTT?? Atau sudah pernah kesana?? Nah,
di Kabupaten Tulungagung ada juga tempat yang konon mirip dengan danau kalimutu
tersebut, Namanya Tlaga Warna. Letaknya di kecamatan Kalidawir sebelah selatan
kabupaten Tulungagung. Tlagawarna ini
memiliki tiga warna airyang berbeda.
Ada yang berwarna biru, hitam dan hijau. Sebenarnya, terbentuknya
cekungan-cekungan tlaga ini adalah bekas galian tambang tembaga dan batu akik.
Setelah penambangan selesai, lubang-lubang bekas penambangan terisi air hujan
dan berubah warna menjadi hijau, biru dan hitam. Mungkin berubahnya warna air
ini disebabkan oleh reaksi logam- logam bekas tambang dengan air hujan sehingga
menimbulkan warna yang berbeda. Lokasinya sih mungkin tidak begitu luas, namun
saya rasa cukup bagus juga untuk menambah koleksi foto.
tlogo warna dengan warna air hitam
dua cewek sedang mencari tempat narsis di tlogo warna hijau
tlogo warna dari dekat
Untuk akses
menuju kesana??, agak sulit sih. Langkah pertama adalah tanyakan arah menuju
kalidawir, baru tanyalah menuju bekas tambang galian batu akik. Jalannya pun
masih jalan desa.Tapi untuk jiwa-jiwa
petualang, saya yakin bisa menemukannya. Hahaha.. ow ya sekalian juga bisa
mampir buat nambah koleksi batu akiknya.
Lokasi yang
kedua adalah duplikatnya Ranu Kumbolo yang namanya Ranu Gumbolo. Hahaha. Dan
sepertinya, sekarang sedang marak upload di facebook, Instagram atau media
sosial lainnya. Sebenarnya Ranu GUmbolo ini masih satu lokasi dengan Waduk
Wonorejo. Namun, akses jalannya mengitarisatu bukit sehingga Pemandangannya sangat beda. Namun saya rasa,
jauhlebih bagus Ranu Gumbolo.
ramainya Ranu Gumbolo sekarang
Sebenarnya pamandangan yang disajikan adalah
aliran airmenuju ke Waduk Wonorejo yang
bentuknya berkelok-kelok dan kelilingi oleh bukit-bukit dan ditumbuhi pohon
pinus. Mungkin lebih mirip danau-danau di luar negeri yang tepinya dikelilingi
hutan cemara. Dulu, konon katanya tempat
ini merupakan spot para pemancing, tapi sekarang menjadi spot tukang narsis.
Wkwkw…. Tapi jujur, tempat ini bagus banget.Untuk sementara tiket masuknya sih gratis, mungkin bayar parkir 3000
rupiah. Saya sarankan kalau main ke Waduk Wonorejo, Bisa sekalian mampir ke
Ranu Gumbolo.
So… Selamat Traveling
dan jangan lupa untuk berbagi cerita ya.
masih dikelilingi pohon pinus
dibela-belain mblasak sampai neu spot sunset
salah satu pemandangan waduk wonorejo
beauty of air terjun jambu wok
Sepulang dari Jakarta saya sangat amat kangen dengan aroma hutan. Benar-benar
seperti sakau untuk mendaki atau ngecamp ke hutan. Bertepatan minggu pertama
kepulangan saya, teman-teman dari Arismaduta akan mengadakan penjaringan minat
di kawasan jambu wok lereng kaki gunung wilis. Hal itupun tidak akan saya
sia-siakan. Karena memang sudah sangat lama saya tidak kesana. Terakhir mungkin
lima tahun yang lalu.
Sabtu sore sekitar jam empat,
saya, Upil dan ulfa berangkat ke secretariat yang tempatnya masih dalam
satu lokasi dengan SMA saya . Berharap kami masih
mendapat tumpangan gratis sekalian penunjuk jalan karena memang kami sudah lupa
jalannya. Namun, sesampainya, ternyata
tempat sudah sepi dan pintu sudah dikunci. Ini berarti kami harus berangkat sendiri
ke lereng wilis sebagai pos awal pendakian. Dan menjelang magrib datang, kami
bertiga melajukan motor ke lereng wilis.
rute hutan pinus yang dilalui
Gunung wilis merupakan
gunung yang masih memiliki hutan
tropis yang cukup lebat dan asri. Gunung ini terletak di perbatasan beberapa
kabupaten. Diantara kabupaten Tulungagung, kabupaten Kediri, Kabupaten Madiun
dan beberapa lerengnya terdapat di Kabupaten Nganjuk. Untuk kawasan Tulungagung,
ada beberapa desa di lereng wilis yang letaknya sangat pelosok. Bahkan penerangan
jalan umumnya masih belum ada. Beberapa rute yang kami lewatipun juga lumayan
mencekam mengingat jalan yang kami lalui masih gelap dengan kanan kiri masih
hutan dan hanya penerangan lampu motor. Apalagi mengingat kami hanya cewek
bertiga. Duh rasanya, nyali saya mengecil ketika melewati kumpulan bambu-bambu
yang panjang tanpa ada penerangan dan semakin ironisnya saya menyetir sendiri
didepan. Merinding pollduk.
Setelah senam jantung
melewati jalan yang mencekam tesebut, akhirnya kami melihat lampu-lampu
desa diujung jalan. Itu berarti kami sudah sampai di desa terakhir sebelum kami
harus jalan menelusuri hutan pinus. Kalau tidak salah desa tersebut bernama
jambu wok.
Pendakian bertiga kami dimulai sekitar jam setengah tujuh malam.
Saya, upil dan Ulfa harus berjalan menelusuri hutan pinus setelah menitipkan
motor di penduduk setempat. Sebenarnya bisa sih menggunakan motor menuju
perkemahan anak-anak, namun saya agak khawatir karena kami bertiga harus melewati
jalan setapak. Ya, demi keamanan, kami memutuskan untuk berjalan saja.
Tim PALA arismaduta yang sealu di hati
dari kiri Upil, deny, saya, mbak Za, sania
with my best cinematography, Ulfa
Perjalanan malam kami bertiga, menembus hutan pinus yang gelap
itu dengan satu senter. Itupun juga
senter yang baru beli dan nyala lampunya pun juga tidak begitu terang.
Saya di tengah sambil memegang senter,
upil dikanan saya sambil menarik-lengan saya saking ketakutan, ulfa di kiri
saya juga menarik jaket saya. Bayangkan saja kalau tiba-tiba ada yang menarik
di belakang saya, Hiiia pasti tambah menakutkan
jadinya. Apalagi kalau diingat-ingat kanan kiri kami adalah pohon pisang
yang konon katanya rumahnya begituan.
Duhh.. rasanya pingin lari, tapi ndak tau lari kemana.
Sekitar tiga puluh menit kami sudah bejalan melewati jalan yang
begituan. Dan ini merupakan pendakian yang paling mencekam selama hidup saya.
Bagaimana tidak, tiga orang cewek dengan
satu senter menembus hutan. Tapi, Lima belas menit kemudian, terlihat cahaya
kuning dan suara mesin dari tengah hutan. Syukurlah, dua anak cowok dari
Arismaduta akan mengambil gas LPG ke desa. Itu berarti kami masih berpeluang
mendapatkan tumpangan atau paling tidak mendapatkan teman naik keatas. Dan
beberapa menit kemudian, dua motor naik keatas dan kami pun selamat dari
horornya jalan bertiga. Horee…
Sampainya di tempat camp, suasana cukup lumayan ramai. Api unggun
sudah dinyalakan dan tenda-tenda sudah pada berdiri. Tapi saya hanya menemukan
dua alumni. Itupun juga cewek semua, mbak Za sama deny. Kata anak-anak para
alumni akan datang nanti malam sekitar jam satu. Namun, sampai saya terbangun
sekitar jam setengah, dua tak ada satu
alumnipun yang datang. Bahkan api unggun sudah padam dan anak-anak sudah pada
tidur. Parno saya mulai kambuh lagi mengingat saya tidur diluar dan dibelakang
saya adalah hutan..tan..tan.
sarapan pagi bareng-bareng
dibawah sejuknya hutan pinus dan cerahnya langit
Pagi harinya setelah sarapan, petualangan kami dimulai. Eh tapi
sebelumnya, ngomong-ngomong sarapan kami serasa ueeanak banget. Nasi hangat
dengan tahu goreng dan telur goreng dengan sambel trasi. Sederhana sih tapi
yang bikin sensasinya berbeda adalah tempatnya itu lho. Setelah sarapan, kami
berangkat ke Air terjun. Yah seperti biasa. Jalanya setapat naik turun,
menyebrangi sungai yang masih bening. Kanan kiri hutan tropis yang masih lebat,
bahkan beberapa rutenya serasa sangat gelap, sampai sekitar satu jam lebih kami
berjalan. Duhh rasanya tak bisa di ngkapkan. Love you banget deh. Serasa hidup lagi. Trimakasih Tuhan, saya
masih diberi kesempatan lagi, Untuk
menjelajahi alam-Mu.
sungai-sungai yang dilalui menuju air terjun
sudut lain dari air terjun jambu wok
free with water fall
Mbak Za sama deny?? kalian baik-baik saja kan??
Sampai akhirnya kami sampai di Air terjun. Sebenarnya, air terjunnya
tidaklah begitu besar. Apalagi mengingat musim kemarau. Tapi sensasi diguyang
air terjun dengan ketinggian sekitar dua puluh meteran dan dingin yang luar
biasa itulah yang bikin ketagihan.
Saya berharap sangat besar, semoga air terjun ini akan tetap selalu
asri, bersih, terjaga, ndak rusak alamnya.
Karena alam yang dirusak akan marah dan membalas pada kita. So, salam
lestari untuk Indonesia. Jaga alam Indonesia agar tetap alami dan bersih dan
jangan jadi pecinta alam yang sok-sokan dan Alay.
Hello , my name is Winona. I am the author and the owner of inobacktrav blog. This blog is to provide you with daily life and share my travel experience.