air terjun jambu wok
beauty of air terjun jambu wok
Sepulang dari Jakarta saya sangat amat  kangen dengan aroma hutan. Benar-benar seperti sakau untuk mendaki atau ngecamp ke hutan. Bertepatan minggu pertama kepulangan saya, teman-teman dari Arismaduta akan mengadakan penjaringan minat di kawasan jambu wok lereng kaki gunung wilis. Hal itupun tidak akan saya sia-siakan. Karena memang sudah sangat lama saya tidak kesana. Terakhir mungkin lima tahun yang lalu.

                Sabtu sore sekitar jam empat, saya, Upil dan ulfa berangkat ke secretariat yang tempatnya masih dalam satu  lokasi  dengan SMA saya . Berharap kami masih mendapat tumpangan gratis sekalian penunjuk jalan karena memang kami sudah lupa jalannya. Namun,  sesampainya, ternyata tempat sudah sepi dan pintu sudah dikunci. Ini berarti kami harus berangkat sendiri ke lereng wilis sebagai pos awal pendakian. Dan menjelang magrib datang, kami bertiga melajukan motor ke lereng wilis.
air terjun jambu wok
rute hutan pinus yang dilalui 
                Gunung wilis merupakan gunung    yang masih memiliki hutan tropis yang cukup lebat dan asri. Gunung ini terletak di perbatasan beberapa kabupaten. Diantara kabupaten Tulungagung, kabupaten Kediri, Kabupaten Madiun dan beberapa lerengnya terdapat di Kabupaten Nganjuk. Untuk kawasan Tulungagung, ada beberapa desa di lereng wilis yang letaknya sangat pelosok. Bahkan penerangan jalan umumnya masih belum ada. Beberapa rute yang kami lewatipun juga lumayan mencekam mengingat jalan yang kami lalui masih gelap dengan kanan kiri masih hutan dan hanya penerangan lampu motor. Apalagi mengingat kami hanya cewek bertiga. Duh rasanya, nyali saya mengecil ketika melewati kumpulan bambu-bambu yang panjang tanpa ada penerangan dan semakin ironisnya saya menyetir sendiri didepan. Merinding pollduk. 

Setelah senam jantung  melewati jalan yang mencekam tesebut, akhirnya kami melihat lampu-lampu desa diujung jalan. Itu berarti kami sudah sampai di desa terakhir sebelum kami harus jalan menelusuri hutan pinus. Kalau tidak salah desa tersebut bernama jambu wok. 

Pendakian bertiga kami dimulai sekitar jam setengah tujuh malam. Saya, upil dan Ulfa harus berjalan menelusuri hutan pinus setelah menitipkan motor di penduduk setempat. Sebenarnya bisa sih menggunakan motor menuju perkemahan anak-anak, namun saya agak khawatir karena kami bertiga harus melewati jalan setapak. Ya, demi keamanan, kami memutuskan untuk berjalan saja.

air terjun jambu wok
Tim PALA arismaduta yang sealu di hati
dari kiri Upil, deny, saya, mbak Za, sania
air terjun jambu wok
with my best cinematography, Ulfa
Perjalanan malam kami bertiga, menembus hutan pinus yang gelap itu  dengan satu senter. Itupun juga senter yang baru beli dan nyala lampunya pun juga tidak begitu terang. Saya  di tengah sambil memegang senter, upil dikanan saya sambil menarik-lengan saya saking ketakutan, ulfa di kiri saya juga menarik jaket saya. Bayangkan saja kalau tiba-tiba ada yang menarik di belakang saya, Hiiia pasti tambah menakutkan  jadinya. Apalagi kalau diingat-ingat kanan kiri kami adalah pohon pisang yang konon  katanya rumahnya begituan. Duhh.. rasanya pingin lari, tapi ndak tau lari kemana.

Sekitar tiga puluh menit kami sudah bejalan melewati jalan yang begituan. Dan ini merupakan pendakian yang paling mencekam selama hidup saya. Bagaimana tidak,  tiga orang cewek dengan satu senter menembus hutan. Tapi, Lima belas menit kemudian, terlihat cahaya kuning dan suara mesin dari tengah hutan. Syukurlah, dua anak cowok dari Arismaduta akan mengambil gas LPG ke desa. Itu berarti kami masih berpeluang mendapatkan tumpangan atau paling tidak mendapatkan teman naik keatas. Dan beberapa menit kemudian, dua motor naik keatas dan kami pun selamat dari horornya jalan bertiga. Horee…

Sampainya di tempat camp, suasana cukup lumayan ramai. Api unggun sudah dinyalakan dan tenda-tenda sudah pada berdiri. Tapi saya hanya menemukan dua alumni. Itupun juga cewek semua, mbak Za sama deny. Kata anak-anak para alumni akan datang nanti malam sekitar jam satu. Namun, sampai saya terbangun sekitar jam setengah,  dua tak ada satu alumnipun yang datang. Bahkan api unggun sudah padam dan anak-anak sudah pada tidur. Parno saya mulai kambuh lagi mengingat saya tidur diluar dan dibelakang saya adalah hutan..tan..tan. 

air terjun jambu wok
sarapan pagi bareng-bareng 
air terjun jambu wok
dibawah sejuknya hutan pinus dan cerahnya langit 

Pagi harinya setelah sarapan, petualangan kami dimulai. Eh tapi sebelumnya, ngomong-ngomong sarapan kami serasa ueeanak banget. Nasi hangat dengan tahu goreng dan telur goreng dengan sambel trasi. Sederhana sih tapi yang bikin sensasinya berbeda adalah tempatnya itu lho. Setelah sarapan, kami berangkat ke Air terjun. Yah seperti biasa. Jalanya setapat naik turun, menyebrangi sungai yang masih bening. Kanan kiri hutan tropis yang masih lebat, bahkan beberapa rutenya serasa sangat gelap, sampai sekitar satu jam lebih kami berjalan. Duhh rasanya tak bisa di ngkapkan. Love you banget deh. Serasa hidup lagi. Trimakasih Tuhan, saya masih diberi kesempatan lagi,  Untuk menjelajahi  alam-Mu.

air terjun jambu wok
sungai-sungai yang dilalui menuju air terjun


air terjun jambu wok
sudut lain dari air terjun jambu wok

air terjun jambu wok
free with water fall 


air terjun jambu wok
Mbak Za sama deny?? kalian baik-baik saja kan??
Sampai akhirnya kami sampai di Air terjun. Sebenarnya, air terjunnya tidaklah begitu besar. Apalagi mengingat musim kemarau. Tapi sensasi diguyang air terjun dengan ketinggian sekitar dua puluh meteran dan dingin yang luar biasa itulah yang bikin ketagihan.

Saya berharap sangat besar, semoga air terjun ini akan tetap selalu asri, bersih, terjaga, ndak rusak alamnya.  Karena alam yang dirusak akan marah dan membalas pada kita. So, salam lestari untuk Indonesia. Jaga alam Indonesia agar tetap alami dan bersih dan jangan jadi pecinta alam yang sok-sokan dan Alay.


Special thank to: Yasinta Dzulfadila D (Ulfa)
                Novi Diah R.  ( upil)
                Dan teman- teman Arismaduta.






Hallo. Hallow selamat pagi, rasanya saya  semangat beraktifitas pagi hari. Setidaknya demikian lah. Ngomong-ngomong soal kegilaan, sepertinya saya kambuh lagi ketika di Jakarta ini. Berawal dari keisengan untuk mengisi hari minggu yang kosong kemarin, saya mencoba mencari tiket nonton MTGW (Mario teguh goleden way) di studio metro TV. Yang itung-itung lagi di Jakarta apalagi  gratis pula nontonnya. Beruntung juga saya belum kehabisan tiket dan langsung minta bantuan mbak citra untuk diprintkan.

Minggu pagi, saya bela-belain berangkat pukul 8 karena di tiket tertera registrasi dibuka pukul 09.30. ya dari pada telat lebih baik dating lebih awal. Tapi ternyata dugaan saya benar busway ke jurusan duri kepa lama banget datangnya sampai setengah jam lebih saya ngantri di halte harmoni. Setelah  itu barulah saya ngoper ojek kearah studio metro.

Sampai disana, oh my God. Sudah banyak sekali peserta yang registrasi. Semuanya berdandan cantik cantik. Ya tau lah orang metropolis seperti apa. Dan saya, haduh endak banget, mirip seperti mahasiswa baru yang lagi ikut ospek. Haduh.. haduh.. ndeso banget lah mungkin istilahnya. Sambil  thingak-tinguk nyari tempat duduk, sekalian juga  saya ketemu teman. Dia dari Depok dan sama-sama sendiri. Alhamdulillah akhirnya ada temennya.

Acara dimulai sekitar pukul setengah dua belas siang yang molor satu jam lebih dari jadwal tertera pada tiket. Sebelum masuk pun, haduh peserta pada duyel-duyelan. Dan setelah semuanya mendapat tempat duduk, tim kru memberi arahan pada penonton. Diantara adalah mendata siapa yang akan curhat, siapa yang akan menjelaskan jawaban dari poling yang dipilih dan siapa yang akan bertanya kepada pak Mario. Banyak sih sebenarnya yang pingin curhat atau bertanya dan ternyata tidak semuanya dipilih. Dibagian curhat akan didata orang-orangnya, baru kemudian dipilih jika temanya bagus. Begitu juga untuk yang bertanya, semua pertanyaan dikumpulkan barulah dipilih satu yang terbaik dari semuanya. Nah, saya kira semua pertanyaan akan dijawab oleh pak Mario, jadi dari malamnya saya sudah mempersiapkan pertanyaannya.

Tapi, sewaktu mengajukan diri kepada tim kru, haduh rasanya saya minder banget. Suprit. Pokoknya penampilan ndak banget lah untuk nongol dilayar. Tapi saya tetap  mencoba mengajukan pertanyaan. Sebelum  shuting dimulai, mas ghivari memberikan pengarahan siapa yang mau bertanya. Jadi waktu itu itu mas ghivari berkata,” jadi nanti yang akan mengajukan pertanyaan adalah bu winona” sumpah rasanya saya kaget banget, bingung, grogi, wajah ndak karu-karuan karena pertanyaan sayalah yang akan dipilih. Ow my God.

Jadi waktu  shuting dimulai, saya memperkenalkan diri, darimana saya, dan pertanyaan saya. Duh rasanya wajah saya merah kuning hijau. Haduh.. haduh.. grogi juga karena harus terlihat baik di depan layar. Setelah itu barulah pak Mario menjelaskan jawaban pertanyaan saya. Mulai dari pancing, kail, sampe kolamnya. Separonya saya ndak mudeng sih karena focus saya terbagi dua.

Tapi  intinya untuk memancing cinta adalah sebaik mungkin memperbaiki diri, memperbaiki pergaulan, tingkat lagu, tutur bahasa, berlaku baik dengan orang lain. Mmm begitu ya pak Mario. Ya nanti saya akan coba. Terima kasih banyak sebelumnya.  Kalau lebih jelasnya bisa nonton videonya hehehe..

Dan itu benar-benar seperti mimpi bagi saya, ya bayangin aja, dari desa tampang juga pas-pasan. Ndak banget lah pokoknya. Haduh.. tapi itu merupakan pengalaman terbaik untuk hidup saya. Trimakasih Pak Mario semoga bisa memberikan berkah, pelajaran bagi saya dan  teman-teman semua. Amin.. dan salam super.

JKT, senin 24 agust 2015

ni foto di dalam studio. tpi pake kamera temen saya



kota tua jakarta
gedung museum fatahillah

Jakarta, pusat kota metropolis terbesar di Indonesia. Juga merupakan kota yang memiliki banyak cerita bersejarah serta pergantian nama dari jaman kerajaan hindu sampai sekarang. Mulai dari sunda kelapa, Jayakarta dari tahun 1527 setelah direbut oleh fatahillah, Batavia dari tahun  30 Mei 1619 yang dirubah oleh VOC setelah  berhasil membumihanguskan Jayakarta, dan yang terakhir adalah Jakarta sampai sekarang. Banyak tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi terutama terpusat di daerah kota tua Jakarta.

kota tua jakarta
salah satu atraksi pengamen di taman fatahillah

Kota tua merupakan salah satu kawasan yang dulu menjadi pusat pemerintahan di jaman hindia belanda. Banyak sekali bangunan-bangunan lama peninggalan belanda yang masih berdiri kokoh. Selain itu kawasan ini juga relative dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa yang kini hanya menjadi dermaga untuk perahu nelayan. Kini, kawasan kota tua menjadi salah satu objek wisata yang cukup populer di Jakarta. Selain murah meriah, kita juga bisa belajar banyak sejarah disini.
Dikawasan kota tua terdapat beberapa spot menarik yang bisa dikunjungi. Seperti museum fatahillah, museum wayang, museum keramik yang masih satu lokasi, museum bank Indonesia, pelabuhan lama sunda kelapa dan masih banyak lagi.
Untuk mencapai kota tua pun juga tidak sulit. Baik dari KRL maupun bus way, turun di statiun kota, jalan lima ratus meter dan sampailah kita.
Alhamdulillah, minggu kemarin ditemani mbak Citra, saya menyempatkan dari main ke kota tua. Karena adanya waktu libur hanyalah hari minggu yang bertepatan semua orang  libur juga, puh, kawasan ini benar-benar ramai sekali. Bahkan sampai antri panjang dan  berjubel. Dasar kota metropolis yang banyak penduduknya dan bingung mau wisata kemana. Ampun dah.

kota tua jakarta
pemandangan taman fatahillah dari museum lantai dua

Spot pertama yang saya kunjungi adalah museum fatahillah atau disebut juga dengan museum sejarah jakarta.  Gedung ini dibangun oleh  Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen Tahun 1620 . Bangunan ini merupakan bangunan belanda yang dijadikan sebagai balai kota kedua setelah balai kota pertamanya dibangun di kali besar timur.
Gedung  ini memiliki luas 1300 meter persegi dan terdiri dari dua lantai yang dibuka untuk wisata.  Semuanya berisi koleksi barang sejarah. Uniknya semua lantai bangunan baik lantai satu maupun dua terbuat dari kayu dan masih mengkilap.

kota tua jakarta
barang-barang didalam museum sejarah jakarta

Didalam bangunan ini menyimpan koleksi benda-benda belanda terutama permebelan yang digunakan dijaman belanda. Seperti almari, rak buku, meja kursi. Bahkan sampai sekarang kwalitas kayunya masih sangat baik dan masih tersimpan dengan bagus. Super sekali. Selain itu ada beberapa prasasti tua dan keramik-keramik tua. Yang paling menyeramkan adalah adanya penjara tua yang pernah menyiksa ratusan bangsa Indonesia. Yakni perjara perempan  dan laki-laki yang berada di bawah bangunan. Rasanya  saya lemas sekali kalau mengingat penyiksaan yang dilakukan. Apalagi tempatnya yang begitu sempit, pendek, tidak ada cahaya matahari.

kota tua jakarta
ramainya pengunjung museum dihari minggu
Untuk masuk di museum ini dikenakan tarif 5000 perorang. Kalau bisa menunjukan kartu mahasiswa akan dikenaik 3000 perorang. Setelah masuk, kita akan beri sandal jepit untuk berjalan-jalan didalam museum. Hihi lucu, tapi dengan demikian menjadi langkah untuk menjaga kebersihan museum.
Dari museum fatahillah, kami beralih ke museum wayang. Disini kita bias belajar aneka jenis bentuk wayang yang ada di Indonesia. Mulai dari wayang golek, wayang kulit, gundala-gundala dari tanah karo Sumatra, sampai si gale-gale untuk mengantarkan jenasah. Hhiiii..

museum wayang
pembuka di museum wayang

museum wayang
salah satu wayang golek raksasa di museum wayang

Dilorong pertama museum akan dihadirkan koleksi wayang golek. Mulai dari yang besar sampai dengan yang kecil. Ada juga koleksi boneka si unyil edisi awal. Hihihi.
Lantai dua museum ini kita akan disuguhi koleksi wayang kulit di Indonesia bahkan wayang kulit dari luar negeri seperti Thailand dan Malaysia. Selain itu ada juga koleksi topeng-topeng kesenian dari beberapa daerah. Ternyata dari sini saya tahu bahwa di tiap daerah di Indonesia memiliki  bentuk wayangnya berbeda-beda. Semisal, tokoh werkudara antara dari Bali, Sunda, Solo, Jogja, Banjarmasin juga akan memiliki bentuk yang berbeda. Ada juga wayang mainan yang tebuat dari bambu dan suket atau rumput.  

museum wayang
boneka si unyil versi awal bersama mbak citra


museum wayang
nih si gondala-gondala dari karo

museum wayang
nih si gale-gale yang biasa digunakan untuk mengiringi jenasah

Selesai dari museum kami menuju taman fatahillah yang jauh lebih ramai dari waktu kami datang. Disana terdapat banyak sekali pengamen yang memakai kostum aneka bentuk. Dan ternyata dibalik kostum tersebut banyak diantara mereka yang masih anak-anak. Duh.. Jakarta memag keras ya. 
museum wayang
bentuk wayang batara guru dari thailand

museum wayang
wayangnya malaysia seperti ini bentuknya


museum wayang
foto bareng mbak citra dilorong museum wayang
museum wayang
nih.. salah satu kostum yang digunakan

Tugu Monas

Saya  bingung akan  nulis dari mana dulu. Lumayan lama sih, dari bulan juni sampai saat ini Agustus saya belum sempat meng-update cerita di blog. Katakanlah tidak traveling,  ya memang saya tidak kemana-mana. Apalagi sekarang saya sedang melakukan kerja praktek di Jakarta.
Ada sih tempat yang seharusnya kemarin saya posting. Namanya Tlogo warna. Tempatnya, ya, masih seklutek di Tulungagung. Tapi karena belum ada waktu untuk nulis dan kebetulan juga laptop saya lagi hang-blang yang membuat saya pusing tujuh keliling bahkan marah-marah sama tukang servisnya, mood saya menulispun juga sangat buruk. Mungkin lain waktu akan saya posting tempat tersebut.
Ngomong-ngomong soal Jakarta nih, ibukota Indonesia, yang memang kebetulan pertama kalinya saya kesana (duh ndesonya) membuat saya bingung kayak orang hilang. Maklumlah pertama kalinya saya pergi dan sendiri pula. Berangkat dari Surabaya dengan keret ekonomi malam karena kehabisan tiket, sampai di Jakarta pukul Sembilan pagi dan pindah KRL sampai di stasiun jati Negara. Oon-nya saya salah masuk KRL. Haduh. Sudah belum mandi, rambut berantakan dan bawa bangkelan banyak, pas semuanya kayak orang minggat.  Untungnya ada teman saya Ainun yang mengarahkan dan menjemput. Thank a lot Ainun.

bunderan HI

                Pertama kalinya menginjak Jakarta, apa ya kesan saya??? Bersih??  Ndak juga, sama kayak surabaya. Mancet?? Haduh lebih parah dari Surabaya. Transportasi?? Okelah. Banyak busway, KRL,  ataupun bus city guide yang bisa bawa keliling Jakarta. Panas?? Alhamdulillah tidak sepanas Surabaya. Mahal?? Iya, benar-benar saya akui. Kalau dibandingkan Surabaya lima belas ribu sudah dapat dua posri disini cuma dapat satu porsi Ampun. Makanan?? Banyak yang ndak cocok dan beda banget dengan makanan jawa timuran. Ada yang enak sih bubur ayam di deket kosan di daerah juanda saya akui enak.   (ups maap ya kalau ada anak Jakarta yang lagi baca maklum saya kan dari desa. hehehe).

diorma di dalam Monas

Ruang bawah monas 


                Udah keliling mana nih di Jakarta?? Haduh belum kemana-mana nih kak. Pertama saya masih empat hari disini. Kedua saya mengirit pengeluaran. Maklumlah uang jajan menipis. Kemarin minggu sih ke Monas. Katanya ke Jakarta belum afdol kalau belum ke Monas.  Ya, paling tidak ada satu fotolah yang membuat resmi keberadaan saya. Hahaha. (ngomong apa juga saya). Untungnya si Ainun masih belum selesai KPnya jadi paling tidak masih ada yang menemani dan penunjuk jalan.
                Setiap kota tentunya mempunyai ikon yang beda dan sepertinya tak jauh-jauh dari yang namanya Tugu. Seperti di Surabaya ada tugu Pahlawan. Di Jogja ada Tugu Jogja dan di Jakarta yang paling terkenal seantero dunia, Tugu monas. Monas ini berada di jantung kota Jakarta. Luasnya delapan puluh hektar. Merupakan taman terbesar kota dan sebagai tempat rekreasi terdekat masyarakat metropolis Jakarta yang murah meriah. Disekitarnya terdapat gedung-gedung penting pemerintahan dan dekat dengan masjid istiqlal. Didalam area monas  ditanami pohon-pohon dan rumput, dan beberapa area berpaving. Untuk masuk kedalam tugu kita harus melewati lorong bawah tanah dan membayar 5000 sebagai tiket masuk. Area didalam monas (di dalam tugunya)  ditampilkan diorama – diorama perjuangan bangsa Indonesia dari jaman perlawanan daerah sampai kemerdekaan. Menurut saya mirip seperti museum tugu pahlawan. Namun yang ini lebih besar. Bedanyanya disini lebih rame bahkan tak sedikit para pengunjung yang tiduran di lantai tanpa alas. Duh apa ndak dingin tuh.  Naik ke lantai berikutnya merupakan jalan ke cawan ataupun ke puncak monas. Untuk  menuju ke puncak, kita harus memakai lift yang bermuatan sebelas orang. Hati-hati karena banyak calo Apalagi kalau bukan orang asli Jakarta. Kemarin saja saya dan Ainun dipalak 10 ribu perorang yang katanya buat ini itu. Duh.
pemandangan dari puncak monas
 Dari atas puncak pemandangannya gedung- gedung bertingkat.  Nampak juga laut dan kepulauan seribu yang gambarnya kabur.  Bagus sih. Tapi kalau saya sih lebih tertarik naik keatas gunung karena pemandangannya lebih bagus. Dan kebetulan saat itu terjadi kebakaran disalah satu gedung yang tampak. Puh asap hitamnya membumbung keatas.
                Pulang dari monas kami mencoba naik bus citytour  yang bertingkat dua. Hihihi.  Kami melewati kawasan buderan HI dan turun di pasar baru. Seru sih tapi sayang  kurang lama.

makasih ainun



Special thanks to: Ainun nadiroh
  





gunung merapi
dari pasar bubrah, nampak puncak merapi.

 Segala  puji syukur yang sangat kepada Allah SWT. Karena disetiap kesempatan akhir semester saya diberikan kesempatan untuk main ke Gunung. Hehehe.. Saya percaya bahwa segala sesuatu sudah dikehendaki dan diatur oleh yang Maha Kuasa. Lebih jelasnya jika Tuhan telah menghendaki berangkat maka berangkatlah kita.  Ya begitulah.  Gara-garanya waktu itu saya sudah menolak permintaan mbak ayuk untuk ikut pendakian ke merbabu-merapi karena memang masih ada kuliah. Namun ternyata banyak sekali kejutan   yang tiba-tiba membuat saya bisa berangkat. Hore.. Yah, walaupun tidak mampir ke merbabu dan langsung ke merapi.
Saya berangkat bersama mbak Hamidah, temannya mbak ayuk. Ya, itupun juga gara-gara saya disuruh menemaninya berangkat karena mbak ayuk sudah berangkat duluan tiga hari sebelumnya. Parahnya lagi, mbak ini  masih cupu dan ndak pernah pergi traveling yang menantang. Alhasil saya seperti momong. Haduh.. (yah.. tak usah saya ceritakanlah)

gunung merapi
dari pos perijinan Selo. akan nampak pemandangan gunung merbabu di depan

Jam sebelas malam saya berangkat dari Surabaya ke Solo dengan bis umum Ac tariff biasa. Tarifnya  sekitar 50.000. Sampai di Solo jam enam pagi dan oper bis kearah Semarang namun turun Boyolali, lebih tepatnya rumah sakit. Tarifnya sekitar 10.000. Kemudian ganti bis mini jurusan Selo. Yang tariff totalnya 20.000 karena oper 2x. Belum sampai situ, kami harus ngojek ke pos perijinan tarifnya 5000. 
Yang paling serunya adalah ketika berada di bis mini yang membawa saya ke Selo. Bagaimana tidak, bis dengan  kursi duduk lima belas harus diisi lebih dari itu. Belum lagi ditambah rinjing-rinjing penduduk sekitar yang membawa hasil pertanian, beras berkarung-karung dan masih banyak lagi barang lainnya.  Yang lebih unik lagi waktu itu ada penumpang yang membawa dua kambing yang  ikut sekalian dinaikkan kedalam bis. Haduh, bisa dibayangkan, sudah tujuh orang berdiri bercampur dengan rinjing, beras dandang, cikrak, dan masih ditambah dua kambing, ditambah lagi jalannya yang naik turun dan berlubang. Komplit sudah perjalanan saya, tapi seru banget.
Setibanya di pos perijinan, kami masih harus menunggu rombongan mbak ayu dan kawan-kawannya yang belum turun gunung. Dan alhasil kami harus menginap semalam di pos karena terlalu kesiangan karena merapi akan mengeluarkan lebih banyak gas beracun ketika siang hari. Konon katanya. 
gunung merapi
pos pertama. memasuki kawasan taman nasional gunung merapi
Tapi filling saya berkata lain yang membuat saya jadi sedikit ragu tentang kebenarannya. Haihh.. dan benar saja  yang saya fillingkan. Sore harinya mas Bay tiba-tiba memutuskan dia tidak bisa mengantarkan dan dijemput. Heh?? Mana mungkin saya bisa percaya secepat itu. Ternyata  gali-digali keputusan tiba-tiba itu  hanya masalah cemburu. Haduh rasanya saya pingin misuh-misuh. Bagaimana tidak hanya karena cemburu dikorbankan dua orang yang  dibela-belain datang jauh-jauh. Saya juga tidak bisa langsung mengiyakan dan pulang dengan hampa.  Dasarnya agak keras kepala, saya tetap memutuskan untuk naik sejauh yang saya sanggup.  Konon katanya, pendakian merapi bisa di tempuh lima jam berjalanan dengan tiktok atau langsung balik tanpa harus pasang tenda. Ternyata keputusan saya ini didukung oleh mbak hamidah dan mbak ayuk dengan hasil akhir mas bay yang mengalah dan mengantarkan kami ke merapi. Hore..
Pendakian dimulai jam dua pagi. Ada sekitar lima titik penting di jalur pendakian. Pos Gerbang, pos satu, pos dua, pasar bubrah dan terakhir puncak merapi.  Dari satu titik ke titik lainnya ditempuh kurang lebih satu jam.  Medan akan berubah ketika menuju pos dua. Jalanan agak luas namun berbatu dan menanjak lebih. Tumbuhan  juga akan berubah seiring perubahan medan. Banyak tumbuhan tundra dan sejenis tumbuhan pucuk merah.  Sesampainya di pos dua, ternyata banyak pendaki lain yang sudah nge-camp disana.  Alasannya pos dua lebih aman dari angin dibandingkan dengan pasar bubrah. 
gunung merapi
diatas ketinggian 2000 mdpl, tumbuhan akan berganti seperti foto ini. aduh mas bay sama mbak ay kok mesra sih. nih aku jadi obat nyamuk
Semakin naik tumbuhan akan semakin menghilang dan berubah menjadi medan berbatu semua. Batu-batu akan lebih besar dan lebih mudah nglundung jika salah menginjak. Jadi harus lebih hati-hati ketika naik. 
Puncak merapi bentuknya mirip seperti mahameru. Berpasir dan menanjakdan pastinya naik satu turun dua. Dari informasi di papan rute  dari pasar bubrah sampai puncak ditempuh sekitar satu jam lebih. Itupun kalau pendaki umumnya. Mungkin kalau saya lebih dari dua jam. Hehehe. Tapi karena kepepet waktu dan kakinya mbak Ay yang sakit, kami memutuskan hanya sampai di pasar bubrah saja. Ya, sayang sih padahal kurang sedikit, tapi mau bagaimana lagi. 
gunung merapi
medannya seperti serasa di luarnegri. lebih tepatnya untuk shuting film horor.
Nah, tepat esoknya,  setelah kami pulang terdengar kabar bahwa salah seorang pendaki terpeleset dan masuk ke kawah merapi dan dinyatakan meninggal. Kabar yang begitu mengejutkann dan saya turun berduka cita. Semoga arwah korban diterima disisi Tuhan dan diampuni dosa-dosanya.  Amin. Pesan saya untuk temen-temen semua baik pendaki ataupun pemula agar selalu hati-hati disetiap langkah, apapun itu. Karena   tak ada yang bisa mengalahkan kekuasaan Tuhan di alam.
.
gunung merapi
Alhamdulillah, akhirnya sampai diatas walaupun ndak ke puncak
.