kawah Sikidang, Dieng
Selamat datang di kawah Sikidang, Dieng Plateau

Hai-hai semuanya, Alhamdulillah saya diberi kesempetan untuk menulis cerita baru, itu artinya saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di tempat yang baru.. hihihi.. Sebelumnya  saya selalu memposting cerita baru setiap satu bulan sekali, namun karena harus menyelesaikan skripsi saya, ya ditunda dulu trip kemanapun demi menyelesaikan study. Maaf ya kalau menunggu lama cerita yang baru. Sebenarnya sih, libur lebaran kemrin saya dan keluarga saya menyempatkan diri main ke air terjun Dolo di kabupaten Kediri. Tapi dulu sudah pernah saya posting jadi saya skip saja ya. untuk review tempatnya bisa di klik disini (air terjun dolo)
                Indonesia sudah terkenal dengan Negara agraris dengan pertanian sebagai hasil utamanya. Begitu juga daratan Indonesia yang beraneka ragam mulai dari pegunungan, dataran tinggi dan pantai menjadikan apapun tanaman bisa tumbuh di tanah Indonesia. Salah satu dataran tinggi yang sangat terkenal di Pulau Jawa adalah dataran tinggi Dieng atau biasa disebut Dieng Plateau.  Dieng plateau terletak di Provinsi Jawa Tengah yang berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Karena berada di atas ketinggian 2000mpdl komoditi utama yang dihasilkan adalah dari sektor  perkebunan disusul sektor keduanya pariwisata.  Hasil perkebunan yang dihasilkan diantaranya kentang, kubis, kol, daun bawang, dan carica. Penasaran buah apa carica ???  baca terus ya sampai habis. 

                Sebenarnya sudah sejak satu tahun yang lalu kami merencanakan pergi ke Dieng, eh bukan saya sih lebih tepatnya Nita dan Ainun yang ingin sekali pergi kesana sebelum kami disibukkan sebagai pengangguran., eh pegawai baru. Alhamdulillah tanggal 11 Agustus kemarin kami diberi kesempatan kesana. 
kawah Sikidang, Dieng
selamat datang di Dieng, seharusnya ini di paling awal, kiri ke kanan saya, Nita, Isna, Ainun

                 Saya tidak akan menceritakan hal-hal yang indah-indah dari trip saya kali ini. Karena memang tak mudah untuk mencapai kesananya. Jika kalian ingin foto-foto yang bagus , mungkin bisa di download dari mbah google. Kalau ditanya apa yang kalian pikirkan tentang Dieng?? Pasti jawabannya pegunungan nan cantik dan indah yang dingin dengan orang yang ramah. Benar sekali, namun satu lagi yang saya mau tambahkan yakni tempatnya yang nyempil di Jawa Tengah yang cukup meratakan pantat karena 12 jam perjalanan. Belum lagi harus ganti bis 4x demi mendapatkan pengeluaran yang semurah-murahnya.
                Well, mungkin tulisan saya kali ini akan jadi dua judul karena kami menghabiskan waktu disana selama dua hari. Sebenarnya kurang sih kalau dua hari, itu juga karena kami dikejar yudisium jum’at pagi yang gimanapun caranya kami harus sudah di Surabaya. Dan ironisnya yudisium dibatalkan.
                Hari pertama kami mulai dari Surabaya berangkat selasa malam pukul 23.00 dengan menggunakan bis. Sampai di terminal Jogjakarta Rabu pagi sekitar 05.30 kemudian disambung naik bis jurusan Magelang kurang lebih satu jam. Setelah itu naik bis lagi ke Kabupaten Wonosobo sekitar dua jam dan masih disambung lagi naik bis ke Dieng sekitar satu jam setengah.  Fiiiuhhh.. rasanya capek ganti bis. Tapi pemandangannya mulai spektakuler ketika kami melewati kabupaten Tumenggung yang jalurnya diantara gunung Sindoro dan Sumbing hingga tiba di Dieng.,  Keren abis pokoknya.  Untuk estimasi biaya akan saya cantumkan di akhir Tulisan ini ya. 

kawah Sikidang, Dieng
menunggu penyewaan motor di Patak Banteng

kawah Sikidang, Dieng
patner saya di beberapa Trip, terimakasih Nita diajakin kesini,di kawah Sikidang

kawah Sikidang, Dieng
salah satu pohon-pohon yang memang sengaja di pasang di kawasan Sikidang untuk tempat foto. sekali foto 5000


kawah Sikidang, Dieng
salah satu kawah yang mengeluarkan uap panas
kawah Sikidang, Dieng
senyum lebar dunk, akhirnya udah kesampaian bisa ke Dieng

                Kami tiba di Dieng lebih tepatnya di Patak Banteng  sekitar pukul 11 siang hari Rabu. Untuk muter-muter area Dieng kami sepakat untuk menyewa motor karena lebih bebas dan tentunya menghemat biaya. Tujuan pertama yang kami kunjungi adalah kawasan Kawah Sikidang. Untuk tiket masuk di kenai biaya Rp 15.000 untuk dua lokasi yakni kawah Sikidang dan komplek candi Arjuna. Kawah Sikidang sendiri merupakan sumber belerang yang mengeluarkan uap sangat panas yang dibawahnya terlihat cairan yang mendidih. Kawah Sikidang merupakan salah satunya kawah aktif dari kawasan vulkanik Dieng sampai dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga geothermal (panas bumi) yang dioprasikan oleh PT Geo Dipa energy yang sekarang menjadi BUMN. Dulu saya dan Nita sempat mengirimkan proposal praktek namun ditolak..,, hahaha.  Kawah ini  Letaknya bukan lagi termasuk kabupaten Wonosobo melainkan masuk kabupaten  Banjarnegara. Salah satu yang paling khas dari kawah ini adalah nuansa yang gersang dan tandus, mirip di luar negri. Bau belereng pun juga sangat menyengat. 
kawah Sikidang, Dieng
ini juga merupakan area yang disewakan untuk berfoto

kawah Sikidang, Dieng winona andnindyara
Hallow kamera,, saya sangat suka dengan foto ini

kawah Sikidang, Dieng
yang mau telur rebus matang dari kawah bisa di celupkan disini
             
kawah Sikidang, Dieng
foto bareng dulu dunk di depan pas kawah yang mendidih

kawah Sikidang, Dieng
suasananya ya seperti ini lah, kombinasi antara gersang, tenda sovenir dan bukit dan awan.awan panas dan awan dingin tentunya.
       Tempat yang kedua adalah komplek candi Arjuna yang letaknya lebih rendah dari kawah Sikidang. Cukup lumayan jauh sih, tapi karena kita pake motor jadi ndak terasa capeknya. Komplek candi Arjuna ini terdiri dari beberapa candi dinataranya candi Semar, candi Srikandi, candi Putadewa dan candi Sembadra. Saat itu terdapat salah satu candi yang sedang dipugar. Oonnya saya tak mengamati lebih lengkap yang mana candi-candi tersebut. Yang paling pasti adalah candi Gatutkaca yang berada tepat di depan pintu masuk. Sebenarnya komplek candi ini tidaklah begitu luas jika dibandingkan dengan komplek candi Jawa Tengah. Yang saya suka dari komplek candi ini adalah sekitarnya yang ditanami rumput jadi bisa duduk-duduk cantik sambil menikmati suasana. Lebih tepatnya suasana pegunungannya. Hihihhi.. Untuk desain jalan masuknya lumayan bagus karena di tepi spot jalan ditanami bunga terompet. Saya suka.  Pertanyaan saya, kenapa orang jaman dulu membangun candi di tempat terpencil yang tinggi dan dingin pula, why?.  

candi arjuna, dieng
jalanan menuju komplek candi Arjuna

candi arjuna, dieng
hai cantik, senyum dulu dunk, with background candi arjuna

candi arjuna, dieng
sepertinya ada salah satu candi yang dipugar deh
candi arjuna, dieng
katanya yang kecil itu candi semar dan yang atapnya tinggi itu candi arjuna

candi arjuna, dieng
tak lupa dunk foto bareng


                Setelah trip cepat di komplek candi arjuna, kami melanjutkan trip ke Telaga Warna. Namun karena sudah kesorean dan tutup kami ganti haluan ke Batu Pandang. Letaknya cukup jauh sih.. jadi sangat tepat kalau menyewa motor. Kesan pertama ketika  kami ketika tiba di tempat parkir adalah apakah kami tak salah tempat??. Jujur ya, kesan pertama saya adalah  apa wahhh-nya dari tempat ini. Yang tampak hanya gundukan bukit berbatu dengan jalan tangga setapak yang kanan kirinya ditumbuhi kobis dan carica. Kalau seperti ini mah, banyak di Jawa Timur. Tapi pemandangan sangat-sangat  berbeda akan kalian temukan ketika sampai di puncak bukit. Nuansa biru dan hijaunya telaga warna yng dikelilingi hutan kecil dan deretan pegunungan tampak indah dari atas bukit. Sumpritt bagus banget ndak bohong. Ini yang menjadi alasan kenapa gundukan bukit berbatu ini cukup banyak pengunjung. Ada juga outbond yang harus bayar lagi selain tiket masuk. Outbond-nya sih hanya menyebrang jembatan kayu yang sambungkan tali antara dua bukit. Saya sih tidak tertarik. Apalagi ingat budged sangatlah tipis. Wkwkwkw. Ow ya,, untuk tiket masuknya Rp 10.000 per orang. 
 
batu pandang Dieng
jalan awalnya mungkin nampak seperti ini. sama sekali biasa saja
batu pandang Dieng
tapi dibalik itu ternyata pesonanya luar biasa, talaga warna yang sepertinya lebih bagus dari jauh

batu pandang Dieng
hai guys,,  senyum dulu dunk, derita jadi tukang foto

batu pandang Dieng, winona andnindyara
dan yang bisa hanya foro sendiri, fiuhhh

batu pandang Dieng
lumayan lah jepretan ini.. walaupun menggunakan kamera buta..,

batu pandang Dieng
ini juga lumayan dengan sedikit editing, tlaga warna dari batu pandang



batu pandang Dieng
kalau naik keatas lagi kita bisa main outbond, kalau mau sih

batu pandang Dieng
outbond diatas batu pandang, tapi sayang cuma pendek.
batu pandang Dieng
ayo nun narsis dulu

  Setelah puas foto-foto, karena waktu sudah sore, kami melanjutkan kunjungan ke mie ongklok.. Hahaha. Sebenarnya bukan nama tempat, tapi nama makanan khas Wonosobo sekaligus makan malam kita sebelum bermalam di Sikunir. Itupun juga karena si Ainun pingin banget merasakan makanan tersebut. Mie ongklok sebenarnya seperti mie ayam dengan bumbu kacang tapi sangat asin dan manis. Toppingnya Ada tahu bacem goreng yang kami kira paru goreng. Aduh zonkk banget deh pokoknya. Saya sama sekali ndak suka.  Kata penduduk sekita sih, mie ongklok yang enak ya di pusat kota Wonosobo. So, besok kalau pingin icip mie ongklok saya sarankan di Wonosobonya aja. Kurang satu lagi yang membuat saya penasaran pingin icip, manisan carica. Masih penasaran kan dengan buah satu ini.. baca lanjutannya ya..
Bersambung…….
               
mie ongklok Dieng
menikmati mie ongklok yang fenomenal, agak maksa juga



Bromo Tengger National Park
welcome to Bromo Tengger Semeru National Park


Hai senang sekali rasanya disela-sela sibuknya mengerjakan Skripsi atau disebut tugas Akhir di Kampus saya, saya masih diberikan kesempatan untuk Traveling. Hehehe. Tak percaya juga rasanya, saya masih saja bisa mencuri-curi kesempatan untuk  melangkahkan kaki mengunjungi tempat baru.
Sebenarnya bukan tempat baru sih, sebelumnya juga saya pernah pergi kesana bersama Arina, Arfi, Dwi, Hadi dan Fery. Namun saat itu kami tujuan utama kami masih belum kesampaian dan malah kesasar ke tempat yang namanya Mitigan. Nah, masih ingatkan ceita yang itu???
Kali ini trip saya bersama teman-teman kuliah saya yang juga sama-sama lagi mengerjakana Tugas Akhir. Lebih tepatnya bersama sepuluh cowok dan hanya saya ceweknya. Berawal dari iseng-iseng mengadakan trip seminggu sebelumnya akhirnya kami benar-benar menjalankan rencana ke Bromo. Kebetulan juga ada temen saya yang Rumahnya Tumpang yang lebih paham Rute Bromo lewat penanjakan yang konon katanya lebih dekat dari pada lewat jalur Probolinggo. 

Bromo Tengger National Park
perjalanan turun Dari puncak penanjakan

Perjalanan kami mulai dari Surabaya dengan mengambil jalur rute Surabaya-Sidoarjo-Pandaan-Lawang-Singosari-Tumpang dengan sepeda motor. Setelah sampai di Tumpang kami menginap semalam karena perjanan selanjutnya dimulai jam dua malam  berharap kami bisa mendapatkan sunrise esok. Paginya, Sekitar pukul dua malam kami mulai memulai perjalanan kami bersama enam motor. Kami memilih jalur tumpang karena tujuan utama adalah mengejar sunrise di Penanjakan. Ya, tempat yang sering digunakan sebagai spot  terbaik untuk mengambil pemandangan Bromo dari atas. Namun di tengah perjalanan motor salah satu teman saya Si doni rantainya pedhot. Owwcchh rasanya sepertinya perjalanan kita kali ini fifty fifty atau kemungkinan terburuknya batal. Saya sempat kepikiran mungkin salah kami juga yang mencuri-curi waktu di sibuk-sibuknya Tugas Akhir. Tapi, disinilah kemampuan anak teknik di uji. Salah satu temen saya untung saja pernah berkecimpung dengan perbengkelan. Dengan berbekal kunci dan senter, rantai pun bisa disambung lagi dan Horeee, kami bisa jalan lagi. 

Bromo Tengger National Park
gunung bathok dan gunung Bromo yang berasap dari atas penanjakan. sayang semerunya tak kelihatan

Bromo Tengger National Park
para photo hunter sunrise
Sekitar pukul lima pagi kami sampai di penanjakan. Wow rutenya itu bisa dikatakan lumayan ekstrim. Kalau mau kesana saya sarankan motornya harus kuat menanjak tinggi. Belum lagi tingkungan yang sangat tajam dan langsung menanjak. Saya sangat senam jantung ketika dibonceng di belakang. Tapi memang benar pemandangan yang disajikan luar biasa indahnya. Barisan Gunung Bathok, Gunung Bromo dan gunung Semeru dikelilingi lautan pasir tebing-tebing bukit di sekelilingnya terpajang indah di depan mata. Spektakuler Abis. Konon katanya barisan gunung bromo ini merupakan deretan gunung terindah karena ada gunung diatas pegunungan. Penanjakan pun sebenarnya juga merupakan puncak  deratan bukit yang mengelilingi Bromo yang terletak pada ketinggian 2.770 mdpl. Namun sayang saat itu sunrisenya tidak muncul dan langitnya tidak cerah jadi serasa kurang maksimal mendapatkan foto yang bagus. Setelah sunrise usai sekita jam tujuhpun penanjakan juga sudah sepi pengunjung. Yah paling tidak saya masih bisa berfoto dengan suasana yang sepi dan tidak uyel-uyelan dengan pengunjung lainnya. 
 
Bromo Tengger National Park
kita foto bareng dunk. dan yang paling cantik adalah saya

Bromo Tengger National Park
ada yang mau narsis, ada yang mau fotoin

Bromo Tengger National Park
ndak lupa dunk kita

Bromo Tengger National Park
cantikan.. yang cantik gunungnya atau saya ya??


Setelah puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke lautan pasir Bromo. Kami memang tidak berencana mampir ke kawah Bromo karena masih sedikit erupsi. Asap tebal pun juga masih membumbung tinggi diatas kawahnya. Bahkan hujan abu yang tipis pun tidak sempat saya rasakan. Menuruni bukit penanjakan, kami mulai mengarungi luasnya lautan pasir yang kadang hampir membuat kami jatuh saking licinnya. Belum lagi kami menghindari kotaran kuda yang berceceran di pasir atau minggir ke tepi ketika jip lewat. Walaupun kelihatan dari atas penanjakan kecil banget tapi lautan pasir itu sangat luas sekali. Saya dan panji berada di barisan tekahir dari teman-teman yang lain, karena sedikit-sedikit saya minta turun dari pada tergelincir pasir Bromo. 
Bromo Tengger National Park
perjalanan menelusuri lautan Bromo

Bromo Tengger National Park
gunung Bromo dan Bathok dari lautan pasir

kami bersebelas, dan tetep, saya yang paling cantik
Kalau dikira-kira kita, kita  seperti mengililingi Bromo tembus ke bukit teletubies yang berada di belakang gunung Bromo dan pulang lewat jalur pendakian Semeru. Sumpah, bukit teletubies itu cantik banget. Menyesal saya tak bawa kamera bagus.
Saya sarankan memang lebih baik menggunakan jip karena tidak capek karena menyetir naik tanjakan dan melewati bukit pasir itu sangat capek sekali. Terutama di pergelangan tangan. Tapi sisi baikknya kami lebih hemat dari pada menggunakan jip. Saya hanya merogoh gocek Rp80.000 dengan rincian Rp25.000 untuk masuk ke Bromo dan Rp55.000 untuk bensin Surabaya-Bromo PP tapi itu diluar makan lho ya. Wowww. Pengalaman saya kali ini benar-benar exited banget bersama sepuluh cowok yang mungkin setelah ini kita akan berpisah karena akan mengejar dunianya masing-masing. Semoga Sukses Semua ya Kawan.

Bromo Tengger National Park
para joki dan kudanya yang lagi mencari pelanggan

Bromo Tengger National Park
para joki  suku tengger yang berselimut sarung




Bromo Tengger National Park
jalan pasir diatara spektakulernya bukit teletubies


untuk cerita lengkapnya saya join dengan teman saya yang juga menulis di blog

PENANJAKAN - BROMO: Day I

PENANJAKAN - BROMO: Day II