PLTU paiton unit Jawa power
PLTU Paiton unit JAWA POWER

Hari kedua dalam agenda study excurse kami adalah mengunjungi PLTU paiton di Probolinggo.
Berlajut  dari hari pertama setelah kunjungan dari pabrik pocari sweat, saya memutuskan untuk tukar bangku dengan teman saya, Nita karena bis kami akan terpisah. Untuk bus 1 dan 2 langsung melanjutkan ke Situbondo sedangkan bus 3 kembali ke Surabaya untuk menjemput dosen. Dan berangkatlah saya bersama bus 2 ke Situbondo.

utama raya situbondo
foto bareng di depan hotel dadakan. 

Nah, dua jam kemudian sampailah kita di rumah  makan Utama Raya di Situbondo. Menunggu kunjungan ke PLTU paiton besok tenyata kami harus bermalam diluar bus dan merogoh kocek lebih untuk menyewa penginapan karena tidak termasuk paket dari tur wisata. Alhasil saya bersama tujuh orang teman menyewa satu kamar di kawasan utama raya yang harganya 200.000/malam.  Tapi penginapannya saya rasa cukup bagus dan nyaman.
Esok paginya setelah sarapan, berangkatla kami ke PLTU paiton unit Jawa Power yang dioprasikan oleh PT YTL. Kami diarahkan dan disambut  di hall dalam kawasan perumahan karyawan oleh para alumni jurusan Teknik Fisika  yang bekerja di PT. YTL.

PLTU paiton unit Jawa power 
troly untuk menaikan batubara dari kapal
Kami dijelaskan bagaimana proses pembangkit listrik itu bekerja. Secara sederhananya Dimulai dari pengambilan air laut yang kemudian dipanaskan dengan batu bara untuk dirubah menjadi uap  dan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik dan air yang panas tersebut dikembalikan lagi ke laut. Untuk mengendalikan bagian-bagian lebih detail dari proses tersebut masih mengacu pada diagram fasa pada proses termodinamika. Aduh ruwet mau jelasinnya.
Nah penjelasan berikutnya mengenai alat-alat instrument yang digunakan seperti PLC, DCS dan lupa nama yang lainnya.  Untuk mengontrol semua proses dan pembangkit segedhe itu menggunakan DCS yang berada di control room. Ya.. mungkin saking lamanya dijelasi sampai saya lupa apa yang udah dijelasin. Hehehe.. itupun juga separo saya ngantuk.. (jangan ditiru ya).

PLTU paiton unit Jawa power
plan lebih dekat. boilernya aja gedhe banhet
Nah setelah dijelasin panjang dan lebar dari jam 9 sampe jam 1 siang, saatnya kita diajak jalan-jalan lebih dekat ke plan. Ternyata kawasan jawa Power merupakan kawasan paling luas dari unit lainnya. Untuk bagian pembakaran dan proses berapa di kab. Probolinggo sedangkan batu baranya disimpan di kab. Situbondo. Ya itu memang kawasan perbatasan. Sayangnya  kami tidak dijinkan masuk ke dalam plan karena safetynya harus dipersipkan jauh-jauh hari sebelumnya. Mmm… yah sayangnya.. 



PLTU paiton unit Jawa power
foto-foto dulu dong
narsis dulu mumpung bisa masuk wkwkwk

pocari sweat pasuruan
pabrik pocari sweet di pasuruan
Salah satu kegiatan yang sering dilakukan sebelum kerja praktek di kampus saya adalah Study Excurse yang biasa disebut SE.  SE merupakan suatu agenda traveling ke perusahaan-perusahaan untuk belajar dan mengenal lebih dekat tentang dunia industry yang akan  terjuni  kelak. Tanggal 17-22 november lalu merupakan kesempatan saya dan teman-teman seangkatan untuk melakukan kunjungan industry tersebut.
Hari pertama kami (17 November 2014) kunjungan kami diawali dari YMPI dan PT Amerta Indah Otsuka yang terletak di kota Pasuruan.
Jam 03.00 saya harus memaksa bangun pagi karena kata teman-teman kita akan berangkat pukul 04.00. ehh.. sudah saya bela-belain bangun pagi-pagi tapi ternyata molor juga sampai akhirnya berangkat 06.30. Hadeh.
Industry yang pertama kami kunjungi adalah YMPI atau Yamaha Musical Product Indonesia yang terletak di kompleks industry pier pasuruan.

pocari sweat pasuruan
pak hendra ( dosen TF ) memberikan kenang-kenangan
Diruang audiotoriumnya kami dijelaskan mengenahi profil perusahaan. Diresmikan tahun 19.., YMPI beroprasi memproduksi alat-alat music tiup  diantaranya flute, saxophone, clarinet, pianika, recorder. Dari sini juga saya baru tahu bahwa Yamaha music terlahir jauh lebih dahulu dari Yamaha motor. Logo dan tulisannya pun juga berbeda jika detiliti lebih detail.  Nah kalau di jepang orang lebih mengenal Yamaha sebagai produsen alat music sedangkan di Indonesia,  orang bilang “Yamaha” pasti pikirannya langsung motor.
YMPI pasuruan
alat musik yang diproduksi di YMPI
Setelah dijelaskan prifil perusahaan, kami dijelaskan profil perusahaan, kami diajak jalan-jalan melihat proses produksinya.  Mulai dari bahan mentah yang masih belum dibentuk,  yang kemudian dilas satu persatu, dirangkai, dicoba satu persatu bahkan ada yang diukir khusus sampai dipacking siap didistribusikan. YMPI merupakan perusahaan jepang sehingga banyak aturan jepang yang digunakan, jadi disiplin banget.
Setelah muter-muter kami kembali lagi untuk sesi Tanya jawab. Salah satu pertanyaannya adalah siapa konsumen dari sekian banyak alat music yang diproduksi?? Ternyata masing-masing alat music memiliki pasar yang berbeda-beda. Untuk pianika pasar terbesarnya adalah jepang sendiri. Untuk flute, saxophone dan clarinet dipasarkan ke daerah Eropa dan Amerika. Sedangkan  recorder,  Indonesia menduduki peringkat ke-4 untuk konsumennya.  

YMPI pasuruan
foto bersama dengan teman-teman.di YMPI

YMPI pasuruan
fotografernya juga ikut narsis

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke pabrik pocari sweet atau PT. Amerta Indah Otsuka. wah.. saya suka banget dengan pabrik ini. Pabriknya bagus, bersih dan modern.
Ketika datang, kami diberi koin untuk mengambil pocari gratis dari mesin pocari yang telah disediakan dan kemudian masuk keaudiotorium untuk dijelaskan profil perusahaan.
Pocari sweet dibangun oleh pak Otsuka dari jepang pada tahun 19…. Yang semula memiliki ide membuat cairan infuse yang kemudian mengalami kegagalan dan jadilah pocari sweet yang sekarang ini.
Kemudian kami diajak jalan-jalan mengungujungi proses produksinya dan dijelaskan prosesnya. Mulai dari biji plastik (resin) dipanaskan Kemudian ditiup menjadi botol pocari dan diisi cairan pocari. Setelah itu, botol ditutup, diberi label, dipacking ke dalam kerdus dan siap didistribusikan.  Prosesnya sangat canggih, modern, dan higienis bahkan tidak tersentuk tangan manusia
.
pocari sweat pasuruan
produk pocari yang dijual dipasar


Kalaupun ada produk yang rusak, seperti tekanan botolnya tidak sesuai dengan standart, label botol ada yang salah, penutupan yang tida pas, produk akan langsung di deportasi dari barisan botol-botol yang sudah  standart. Dan lagi-lagi dilakukan oleh mesin canggih dan bukan tangan manusia. Puuhhh… canggih banget.
Namun sayangnya kami tidak diberi tahu persis cairan pocari itu dibuat seperti apa. Berapa presentase zat yang digunakan. Ya, hanya yang tertera di kemasan sajalah yang kita tahu.
Pulangnya kami semua mendapatkan oleh-oleh berupa satu tas pocari yang didalamnya ada tiga botol pocari sweet. Mmm sampai eneg saya minum pocari sweet.

pocari sweat pasuruan
bareng temen-temen semua



jaket kulit yang diproduksi. dibandrol lebih dari 1 juta



Ngomong-ngomong soal kerajinan industri,  Indonesia sih jangan ditanyak.  Buanyak banget dari sabang sampai merauke. Mulai dari kerajinan tangan manual sampai mesin canggih bahkan banyak  dieksport ke luar.  Namun lagi-lagi karena tidak adanya pengelolaan yang tepat serta  pengembangan yang bagus, tidak sedikit pula industri  yang memiliki potensi bagus menjadi gulung tikar. 
Pernah dengar tidak kerajianan tas terutama tas kulit dari tanggulangin Sidoarjo yang konon terkenal bagus, awet, dan produk unggulan Indonesia??  Yang bahkan banyak merek  seperti channel  dll  sampai bekerjasama dengan para pengusaha tanggulangil untuk memproduksi tas mereka.  Mungkin generasi muda jaman sekarang sudah tidak banyak mendengar industry tas tanggulangin karena produksinya memang sudah tidak sebesar dulu sebelum tanggulangin kena dampak lumpur lapindo.
Nah.. 14 september 2014 kemarin saya menyempatkan kesana untuk ke-2 kalinya. Kali ini saya dalam rangka menemani temen kuliah saya untuk survey desain tas di Tanggulangin.  Untuk  ke Tangulangin memerlukan waktu sekitar satu jam dari kota Surabaya.  Arahnya dari Surabaya lewat Sidoarjo mengikuti jalan utama ke arah Pasuruan. Kemudian ada petunjuk jalan kearah Tangulangin kemudian  puter balik dan memasuki gapura Tanggulangin.
Setelah memasuki gapura “Selamat datang di sentra kawasan industry  tas dan sepatu Tanggulangin” banyak sekali toko-toko yang memajang tas-tas dijual.  Bahkan beberapa toko memasang harga mulai dari  65ribu.
                 Ada juga pusat grosir tas yang bentuknya mirip seperti pasar. Namun sayangnya bangunan baru itu masih sangat sepi penjual apalagi pembelinya.  Setelah muter-muter pada akhirnya sampailah kita pada salah satu pengrajin  tas dan jaket kulit. 

salah satu pengrajin tanggul angin dengan karyanya dibelakang
                Rata-rata tas maupun jaket kulit di tanggul angin dibuat dari kulit domba dan dipastikan asli. Penggunakan kulit domba lebih dominan dari pada kulit lain karena lebih lentur dan lembut. Beberapa pengrajin membuka langsung  proses pembuatan tas di belakang show room mereka. Untuk satu tas kulit dibandrol dari harga 400rb sampai jutaan. Sedangkan jas atau jaket kulit dibandrol mulai harga satu juta.  Jika dibandingkan dengan kemampuan beli  masyarakat Indonesia memang kelas menengah keatas untuk konsumen utamanya. Tak jarang turis asing datang dan memberikan banyak tawaran kerjasama kepada para pengrajin. Bagus sih sebenarnya. Namun saya tidak tahu kenapa beberapa pengrajin itu kadang menolak penawaran tersebut.
Selain Kasus lumpur lapindo yang sampai sekarang belum selesai, persaingan dengan barang impor terutama  buatan cina  memberikan efek besar terhadap pengrajin tas disana. Beberapa pengrajin banyak yang beralih menjual produk import tersebut yang memang harganya lebih murah serta lebih banyak diminati pasar masyarakat Indonesia.


kawah ijen
kawah ijen ketika pagi hari

       Gunung Ijen merupakan  salah satu pesona Jawa Timur yang meyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa serta social budaya yang kental. Gunung yang masih aktif  dan memiliki kawah berwarna biru ini masuk di wilayah  di Kabupaten Bondowoso meskipun berada diantara dua kabupaten yakni Banyuwangi dan Bondowoso.  Gunung ini merupakan satu-satunya tempat yang memiliki pesona “blue Fire” atau api biru yang keluar dari kawahnya. Karena terletak diatas ketinggian  2443 mdpl, pemandangan dari atas Gunung ijen sungguh luar biasa. Apalagi ditambahi dengan pesona kawah yang berwarna biru serta penambanganan belerang di atas ijen.
      Sebagai pecinta traveling, tentu saja saya bermimpi bisa pergi kesana. Apalagi sekarang maraknya blog-blog traveling yang membuat saya semakin amburadul ketika memandangi foto-foto spektakuler Gunung Ijen. Kapan saya bisa kesana??

kawah ijen
pemandangan di dekat kawah ijen. banya banget pengunjung turun dan
mendekat untuk melihat proses pengambilan belerang
         Namun dua minggu yang lalu saya serasa ketiban durian runtuh. Bude saya (yang biasa ngajak traveling)  mengabarkan bahwa sabtu besok akan pergi ke Kawah Ijen. Haik.. Saya rasanya mau meledak. Susah seneng, bingung dilemma. Tapi akhirnya dengan segala resiko ya saya tetap berangkat. Kapan lagi coba saya bisa travelling gratis.
         Sabtu, berangkat dari Sidoarjo pukul 13.45 melewati rute Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso dan masuk Panarukan Banyuwangi kemudian masuk lagi Bondowoso. (saya sedikit bingung juga untuk rute yang kecil-kecil).  Setelah itu kami mulai masuk daerah pegunungan yang jalannya ndak kelihatan karena ndak ada rumah penduduk apalagi listrik. Waktu tempuh dari sidoarjo sampai memasuki pegunungan sekitar delapan jam belum rute pegunungan sampai spot awal pembayaran ijen sekitar dua jam perjalanan. Waktu itu tidak ada sama sekali kendaraan yang melintas. Jadi  bisa dibayangkan ditengan-tengah hutan yang benar-benar gelap yang jalannya naik-turun dan hanya kami bertiga, saya, bude saya dan pakde. Fiuh..
           Ada tiga portal keamanan ditengah-tengah rute hutan itu. Setiap spot diwajibkan melakukan registrasi demi menjaga kelestarian hutan. Mungkin karena Gunung ijen merupakan cagar alam jadi dibeberapa titik perlu dijaga.
kawah ijen
post perijinan dan pembayaran gunung ijen
          Pukul 23.30 akhirnya kami sapai di spot awal pendakian. Tenyata sudah banyak sekali orang-orang yang akan mendaki ke Ijen. Bahkan ketika ke toilet saya saya harus mengantri tiga puluh menit saking banyaknya antrian.

kawah ijen
blue fire dari ketinggian 1km diatas kawah
How about track??
            Jangan bayangkan pendakian ke ijen seperti pendakian ke gunung-gunung yang masih alami, yang harus bawa carier yang berat.  Kalian tidak akan bersusah payah kok (eh tergantung fisik masing-masing sih). Menurut  saya tracknya relative enak. Jalannya selebar tiga meter dan jalannya tidak terlalu menanjak. Tapi medannya tanah dan kerikil-kerikil bahkan debunya banyak banget mungkin karena saat itu musim kemarau dan banyak pejalan kaki. Kalian tidak perlu khawatir kalau treveling sendiri, saya jamin kalau malem minggu pasti rame.  
kawah ijen
tracknya paling tidak seperti ini
          Kata orang pendakian normal akan memakan waktu 2,5jam untuk sampai ke puncak eh.. kawah maksud saya. Namun karena saya bersama dua orang yang mungkin staminanya tidak se-full anak muda lagi jadinya sampai di kawah pukul 3.30 pagi. Untung saja saya masih bisa melihat blue fire-nya walaupun saya tidak turun lebih dekat ke kawah.  
kawah ijen
belerang yang akan diangkut penambang
             Satu jam kemudian matahari mulai muncul yang membuat pemandangan semakin jelas dan blue firenya semakin menghilang. Ternyata bleu fire-nya itu muncul ditengah-tengah batu belerang yang  ditambang.  Blue  fire melelehkan belerang-belerang disana sehingga bisa dibawa dengan bongkahan-bongkahan kecil atau bahkan dengan aneka bentuk.  Disampaingnya tambang belerang itu terhampar luas kawah ijen yang berwarna biru kehijauan yang dikelilingi tebing-tebing batuan tanpa ada tumbuhan sama sekali yang hidup disana.  Hikss.. bagus banget apalagi kalu kalian bisa mmotret para penambang belerang dengan angel dan view tepat. Josh dah foto kalian.
Setelah golden time tiba dan puas mengambil foto yang banyak. Bude saya mengajak saya untuk segera turun karena anginnya semakin kencang dan semakin dingin.

deretan pegunungan mulai dari gunung meranti paling depan
sampai gunung raung di belakangnya
    Sekitar jam enam pagi kami mulai turun gunung. Dan ternyata pemandangan di tengah-tengah track berdebu itu lebih bagus. Siapa kira yang malem harinya gelap..lap..lap.. tak tampak sama sekali  dan berdebu itu ternyata memiliki pemandangan yang tak kalah spektakuler. Deretan gunung mulai dari gunung meranti sampai gunung Raung diikuti pegunungan ditepinyadengan kombinasi langit biru yang jernih membuat saya semakin melting.  Saya pingin lebih lama disini. Hiks..  bagus banget… dan pemandangan itu menghiasi kami di sepanjang perjalanan turun.  Bonusnya lagi kami menjumpai lutung hitam dan kuning yang lagi nangkring di pohon.

kawah ijen
lagi asyik memotret meranti

kawah ijen
lutung-nya lagi nangkring. cari sisa-sisa daun yang gag kebakar
       Sayangnya banyak sekali kawasan hutan lindung gunung ijen yang habis terbakar. Saya tidak tahu ini efek dari kemarau atau memang sangaja dibakar. Tapi ketika itu banyak sekali bekas abu atau arang. Bahkan ada pohon cemara yang tuinggi kebakar dan masih dalam keadaan berdiri. Duh gimana ya kalau ni pohon tiba-tiba tumbang??.
Di sepanjang perjalanan turun, kami sering berpapasan dengan para penambang yang berangkat untuk mengambil belerang ke kawah ijen.  Ironisnya, dengan track yang menanjak dan jalan dua jam dan membawa berat sekitar 70-90 kg mereka hanya dibayar Rp800,- sampai Rp900,- per kilo. Kalau dihitung 800 x 70 kg = 56.000 upah mereka dalam sekali pengambilan belerang.  Saya rasa itu tidaklah sepandan dengan resikonya yang tinggi. Pertama, jalannya licin dan tak jarang juga para pengunjung terpeleset kerikil. Kedua, belerang akan berbahaya untuk tubuh kalau lama-lama terhirup. Ketiga, terjadinya pengapalan ada bahu karena terlalu sering mengangkat beban berat.  Duh.. semangat ya pak. Semoga selalu diberikan kelancaran dan keselamatan. 
kawah ijen
para penambang yang akan berangkat mengambil belerang
       Sampai di post awal pendakian kami memutuskan untuk segera balik ke Surabaya. Nah.. how about perjalanan ke kota??
        Gila, ternyata perjalanan yang kemarin gelap sama sekali dan naik turun itu memiliki pemandangan yang tak kalah spektakuler ( saya bingung harus ngomong apa lagi). Langitnya biru jernih. Kanan kiri bukit yang ditumbuhi semak (mirip savanna) dan kanan kiri mobil langsung jurang. Bagus tapi extrim. Di tengah perjalanan menembus hutan itu, mata saya  tidak sengaja melirik air terjun yang membuat pakde saya harus putar balik. (Hia,, ngrepotin aja saya)

kawah ijen
pemandangan keluar dari area hutan lingdgung ijen
          Saking menggebu-nya buat hunting foto, saya langsung aja nyemplung di air yang berwarna hijau tanpa pikir panjang. Sempet sih  bertanya “kok airnya hijau??” Tapi  tetep aja nyemplung. Satu detik… Dua detik.. “Huaa… Perih”. Bagaimana tidak, kaki saya yang sobek-sobek berdarah terkena air belerang hijau itu. Aduh rasanya…  ampun dah.

kawah ijen
air terjun yang konon airnya berasal dari kawah ijen

kawah ijen
warna irnya hijau banyak mengandung belerang
Balik ke Surabaya pakde saya mengambil jalur Bondowoso, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo.  Disetiap  kota bude saya   mampir  buat beli oleh-oleh. Mulai dari tape manisnya Jember, sampai pisang agungnya lumajang.
Nah. Kalau dikira-kira dalam dua hari satu malam saya sudah berkeliling setengah Jawa Timur. Hore…
Saya bigung dengan teman saya yang barusan juga ke kawah ijen. Katanya pemandangannya jelek. Lha gimana bisa?? Orang pemandangannya bagus banget.
NB: saya saranin kalau kesana
1.       Bawa  penutup telinga yang anget karena diatas gunung anginnya  kenceng.
2.       Jangan lupa bawa dan pake masker karena debunya banyak berterbangan
3.       Berangkat mulai sore aja biar mulai masuk kawasan hutan masih banyak temanya.
4.       Bayar disetiap post registrasi. Yah minimal 10 ribu lah. Syukur-syukur lebih sebagai ucapan trimakasih.

kawah ijen
So salam manis traveling dari saya.